Beranda | Artikel
Biografi Abdullah bin Katsir, Imam Qiraah di Makkah
Rabu, 10 April 2024

Makkah memiliki banyak keutamaan. Di antaranya:

Pertama: Allah mengabarkan bahwa ia adalah induk dari segala negeri. Hal ini sebagaimana firman-Nya,

لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا

Agar engkau (Muhammad) memberi peringatan kepada (penduduk) Ibu Kota (Makkah) dan orang-orang di sekitarnya.[1].  Semua negeri adalah cabang darinya.

Kedua: Makkah menjadi kiblat bagi seluruh penghuni bumi. Tidak ada kiblat lain di muka bumi ini. Allah berfirman,

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam.[2]

Ketiga: Makkah adalah negeri yang aman, tempat diturunkannya wahyu, dan sumber risalah. [3]

Di antara imam qiraah di Makkah adalah Abdullah bin Katsir rahimahullah. Allah memilihnya di antara para qari (pembaca) pada masanya. Berikut biografi singkatnya:

Nama lengkap

Nama lengkap beliau adalah:

عبد الله بن كثير بن عمرو بن عبد الله الداري

Abdullah bin Katsir bin Amru bin Abdullah Ad-Dariy.

Kunyahnya:  ( أبو معبد ) Abu Mu’bad.

Berasal dari Persia, dan lahir di Makkah pada tahun 45 H. [4]

Sifat-sifat secara umum

Dia rahimahullah adalah seorang tabiin dari thabaqah (tingkatan) kedua, salah satu dari tujuh imam qiraah. Dia menjadi qadhi (hakim) di Makkah, pemberi nasihat, orang yang sangat wara‘ (menjaga diri dari yang syubhat), dan mempunyai kedudukan yang tinggi. Dia adalah seorang yang sangat fasih, berbicara dengan sangat baik, berjenggot putih, bertubuh tinggi besar, berkulit sawo matang, bermata sipit, menyemir rambutnya dengan hinna (inai) atau warna kuning, dan memiliki ketenangan dan wibawa. [5]

Keadaannya bersama Al-Qur’an

Abdullah bin Katsir rahimahullah adalah imam penduduk Makkah dalam qiraah dan dhabt (menghafalnya dengan baik). Dia memimpin dalam membaca dan mengajarkan Al-Qur’an di Makkah setelah wafatnya Mujahid bin Jabr rahimahullah pada tahun 103 Hijriah.

Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata,

لم يكن بمكة أحد أقرأ من حميد بن قيس وعبد الله بن كثير

Tidak ada seorang pun di Makkah yang lebih mahir membaca Al-Qur’an selain Humaid bin Qais dan Abdullah bin Katsir.”

Ibnu Mujahid rahimahullah berkata,

ولم يزل عبد الله هو الإمام المجتمع عليه في القراءة بمكة

Abdullah terus menerus menjadi imam yang disepakati dalam qiraah di Makkah.

Ibnu Mujahid juga berkata,

لم أر أهل مكة يعدلون بقراءة ابن كثير قراءة أحد ممن كان في عصره

Saya tidak melihat penduduk Makkah yang sebanding dengan qiraah Ibnu Katsir, yakni qiraah satu orang pun yang semasa dengannya.”

Ibnu Katsir rahimahullah apabila hendak mengajarkan Al-Qur’an, dia terlebih dahulu menasihati murid-muridnya, kemudian mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada mereka agar bacaan mereka terpengaruh oleh nasihat tersebut sehingga menjadi lembut.

Mereka (para murid) berkata,

قراءة ابن كثير خز (نوع من أنواع اللباس الحريرية) القراءة

Qiraah Ibnu Katsir adalah khazz (sejenis kain sutera) dari qiraah.”

Mereka menggambarkannya demikian karena kelembutannya, keindahannya, dan kemudahannya. [6]

Imam Syafi’i rahimahullah mempelajari qiraah Ibnu Katsir dan memujinya. Beliau berkata,

قِرَاءَتُنَا قِرَاءَةُ عَبْدِ اللهِ بْنِ كَثِيرٍ، وَعَلَيْهَا وَجَدتُّ أَهْلَ مَكَةَ

Qiraah kami adalah qiraah Abdullah bin Katsir. Dan seperti itulah yang saya dapati pada penduduk Makkah.”

Al-Asma’i rahimahullah berkata,

قُلْتُ لِأَبِي عَمْرِو : قَرَأْتَ عَلَى ابْنِ كَثِيرٍ ؟ قَالَ : نَعَمْ، خَتَمْتُ عَلَى ابْنِ كَثِيرٍ بَعْدَ مَا خَتَمْتُ عَلَى مُجَاهِدٍ، وَكَانَ ابْنُ كَثِيرٍ أَعْلَمَ بِالعَرَبِيَّةِ مِن مُجَاهِدٍ

Saya bertanya kepada Abu Amru, ‘Apakah engkau membaca (Al-Qur’an) kepada Ibnu Katsir?’ Dia menjawab,l ‘Ya, saya khatam (menyelesaikan) kepada Ibnu Katsir setelah khatam kepada Mujahid, dan Ibnu Katsir lebih paham bahasa Arab dibandingkan Mujahid.`” [7]

Dia rahimahullah berpegang teguh pada petunjuk salaf saleh dalam berpegang pada sunnah dan menghiasi diri dengan ketenangan dan wibawa, penghormatan terhadap Al-Qur’an dan keagungan firman Allah azza wa jalla. Demikianlah seharusnya para pengamal dan penghafal Al-Qur’an, karena merekalah kekasih Allah azza wa jalla dan orang-orang khususnya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لله من الناس أهلون

Allah memiliki keluarga di antara manusia.’

Ditanyakan, ‘Siapa mereka ya Rasulullah?’

Beliau menjawab,

أهل القرآن هم أهل الله وخاصته

Ahlu Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” [8]

Baca juga: Biografi Nafi’ bin Abi Nu’aim

Gurunya dalam qiraah

Abdullah bin Katsir rahimahullah bertemu sejumlah sahabat. Di antaranya adalah Abdullah bin Zubair, Abu Ayyub Al-Anshari, Anas bin Malik, dan Abdullah bin As-Sa’ib radhiyallahu ‘anhum, serta meriwayatkan hadis dari mereka.

Dia membaca (belajar) Al-Qur’an kepada sahabat Abdullah bin As-Sa’ib Al-Makhzumi radhiyallahu ‘anhu, kepada tabiin Mujahid bin Jabr dari Ibnu Abbas, dan kepada Darbas bekas budak Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. [9]

Muridnya dalam qiraah

Banyak orang yang belajar qiraah kepada Abdullah bin Katsir Al-Makki rahimahullah. Di antaranya adalah Abu Amru bin Al-‘Ala’ Al-Bashri, Isma’il bin Abdullah bin Qustanthin, Isma’il bin Muslim, Jarir bin Hazim, Al-Harits bin Qudamah, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Khalid bin Al-Qasim, Al-Khalil bin Ahmad, Sulaiman bin Al-Mughirah, Syabl bin ‘Abbad dan anaknya Shadaqah bin Abdullah, Thalhah bin ‘Amru, Abdullah bin Zaid bin Yazid, Abdulmalik bin Juraij, Sufyan bin ‘Uyainah, dan lainnya rahimahumullah. [10]

Kedudukannya dalam ilmu hadis

Ibnu Katsir adalah seorang yang terpercaya dalam hal periwayatan hadis, meskipun dia sedikit meriwayatkannya.

Dia meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Zubair, Abu Al-Munhal Abdurrahman bin Mu’tam, Ikrimah bekas budak Ibnu Abbas, dan Umar bin Abdul Aziz.

Orang-orang yang meriwayatkan hadis darinya adalah Ayyub As-Sakhtiyani, Ibnu Juraij, Jarir bin Hazim, Al-Husain bin Waqid, Hammad bin Salamah, dan lainnya.

Ali bin Al-Madini rahimahullah berkata,

كان ثقة

Dia (Ibnu Katsir) adalah orang yang terpercaya.”

Yahya bin Ma’in berkata,

ثقة

Dia terpercaya.”

Banyak dari ahli hadis meriwayatkan darinya, dan hadis-hadisnya diriwayatkan dalam Kutub As-Sittah. [11]

Wafat

Ibnu Katsir rahimahullah wafat pada tahun 120 hijriah.

Sufyan bin Uyainah rahimahullah mengabarkan bahwa dia menghadiri pemakaman jenazah Ibnu Katsir Ad-Dariy pada tahun 120 Hijriah.

Ibnu Katsir hidup selama 75 tahun. [12]

Demikian, semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas. Selawat dan salam atas Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.

Baca juga: Biografi Ashim bin Abi An-Najud

***

15 Ramadhan 1445, Rumdin Ponpes Ibnu Abbas Assalafy Sragen

Penulis: Prasetyo, S.Kom.


Artikel asli: https://muslim.or.id/92959-biografi-abdullah-bin-katsir-imam-qiraah-di-makkah.html